Mencairnyaes di kutub disinyalir hasil dari global warming disebabkan gas buang/emisi industri.Hubungan sebab akibat diatas adalah keterkaitan aspek? Tinggalkan komentar Batalkan balasan. Komentar. Nama Surel Situs web. Simpan nama, email, dan situs web saya pada peramban ini untuk komentar saya berikutnya. Whatis global warming? 2. Is it a severe problem? Why? 3. What kind of text is given above? - Brainly.co.id; 15 Contoh Discussion Text dalam Bahasa Inggris dan Artinya. Contoh Discussion Text Beserta Generic Structure Nya. Mencairnya Es Di Kutub Disinyalir Hasil Dari Global Warming. Mencairnyaes di kutub disinyalir hasil dari global warming yang disebabkan gas buang/ emisi industri. Hubungan sebab akibat di atas adalah keterkaitan - 421 septiananggapramana9 septiananggapramana9 poin1. Mencairnya es di kutub disinyalir hasil dari global warming yang disebabkan gas - Brainly.co.id. Pemanasan Global: Pengertian, Penyebab, Dampak Dan Cara Mengantisipasi - Gramedia Literasi. Mencairnya es di kutub disinyalir hasil dari global warming yg disebabkan gas buang/emisi industri. - Brainly.co.id. SAHABAT BERSAMA: Pengertian DownloadPrediksi HK Malam Ini 4 Juni 2021 file (7.44 MB) with just follow This provide cant be coupled with almost every other offer you. Electronic information and providers might only be available to customers located in the U.S. and they are topic for the terms and conditions of Amazon Electronic Providers LLC. Give restricted to just one per client and account. Amazon reserves the proper Vay Tiền Trả Góp Theo Tháng Chỉ Cần Cmnd. - Sekitar 99% air tawar yang ada di Bumi berada di atas Greenland dan Antartika yang membeku. Namun kini, mereka mulai mencair ke laut dalam jumlah banyak. Normalnya, perlu ratusan hingga ribuan tahun bagi semua es yang ada di Bumi untuk mencair, tapi bagaimana jika ada suatu bencana yang membuatnya meleleh dalam waktu semalam?Permukaan laut akan naik setinggi 66 meter. Kota-kota pesisir seperti New York, Shanghai, dan London akan tenggelam dalam banjir besar-memaksa 40% populasi dunia untuk meninggalkan rumah mereka. Saat kekacauan terjadi di daratan, sesuatu yang menyeramkan juga berlangsung di bawah laut. Semua air asin akan menyusup dan mencemari cadangan air tawar di daratan. Artinya, cadangan air minum, irigasi, hingga sistem pembangkit listrik akan rusak. Baca Juga Sesuai Namanya, Zona Kematian di Everest Ini Kerap Memakan Korban Yang tak kalah penting, es di Greenland dan Antartika terbuat dari air tawar, jadi ketika mereka mencair, ada sekitar 69% cadangan air di dunia yang langsung menuju laut. Ini akan mendatangkan malapetaka pada arus laut dan pola cuaca kita. Pada Gulf Stream, misalnya. Ia merupakan arus laut kuat yang membawa udara hangat ke Eropa Utara dan bergantung pada air asin yang tebal dari Kutub Utara untuk berfungsi. Namun, jika banjir air tawar terjadi, itu akan mencairkan, melemahkan atau bahkan menghentikan arusnya sama sekali. Kemudian, tanpa udara hangat tersebut, suhu di Eropa Utara akan menurun drastis dan menciptakan zaman es mini. Beralih dari Greenland dan Antartika, apa yang akan terjadi dengan 1% es yang bukan bagian dari mereka? Gletser di Himalaya mungkin akan menimbulkan ancaman terbesar karena apa yang terperangkap di dalamnya senyawa beracun dichlorodiphenyltrichloroethane atau DDT. Ketika mencair, gletser akan melepaskan senyawa tersebut ke sungai, danau, cadangan air tanah dan kemudian meracuninya. Selain gletser, 1% es tadi juga meliputi permafrost yang berada di bawah tanah-kebanyakan di tundra Arktika. Mirip dengan gletser Himalaya, salah satu masalah yang muncul dengan pencairan permafrost adalah keracunan merkuri. Selain itu, bahan organik dalam permafrost adalah makanan lezat untuk mikroorganisme. Setelah mencernanya, mereka akan mengeluarkan gas rumah kaca paling ampuh, karbondioksida dan metana. Menurut para ilmuwan, ini akan menggandakan jumlah gas rumah kaca yang ada saat ini di atmosfer-menyebabkan kenaikan suhu global 3,5 derajat Celsius. Tidak cukup hanya itu, uap dari suhu yang lebih tinggi akan menyebabkan kekeringan massal dan iklim seperti gurun. Semua uap air ekstra di atmosfer juga akan memicu badai dan banjir yang lebih sering dan kuat. Es dunia mencair dalam satu malam memang terdengar mustahil, tapi menurut peneliti, jika kita tidak melakukan hal apa pun untuk mencegahnya dan suhu meningkat hingga 1 derajat Celsius, maka efek perubahan iklim yang sudah kita lihat saat ini mungkin benar-benar tidak bisa dikendalikan. PROMOTED CONTENT Video Pilihan Thinkstock Bongkahan es mencair di Ilulissat Icefjord, Greeland. – Sekelompok peneliti Inggris menemukan fakta bahwa sekitar 28 triliun ton es telah menghilang dari permukaan bumi sejak 1994. Dilansir dari Bussiness Insider, para ilmuwan dari Leeds University, Edinburgh University dan University College London, menganalisis survei satelit dari gletser, gunung, dan lapisan es antara 1994 hingga 2017 untuk mengetahui dampak dari pemanasan global. Baca Juga Studi Setengah dari Laut Dunia Telah Terdampak Perubahan Iklim Studi yang dipublikasikan pada jurnal Cryosphere Discussions ini menggambarkan hilangnya es dalam jumlah “mengejutkan”. Peneliti mengatakan, mencairnya gletser dan lapisan es dapat menyebabkan permukaan laut naik secara dramatis-kemungkinan mencapai satu meter pada akhir abad ini. “Setiap sentimeter kenaikan permukaan laut, berpotensi mengusir’ satu juta orang yang tinggal di wilayah yang rendah,” kata Profesor Andy Shepherd, direktur Centre for Polar Observation and Modelling Leeds University. Pencairan es yang dramatis tersebut juga memiliki beberapa konsekuensi, termasuk gangguan pada biologis perairan Arktika dan Antartika. Juga mengurangi kemampuan Bumi untuk memantulkan radiasi sinar matahari kembali ke luar angkasa. Penemuan ini sesuai dengan skenario kasus terburuk yang diprediksi oleh Intergovernmental Panel on Climate Change IPCC. “Sebelumnya, peneliti hanya mempelajari area individu—misalnya di Greenland atau Antarktika—di mana es–es mencair. Namun, ini pertama kalinya ada studi yang melihat hilangnya es dari seluruh dunia. Apa yang kami temukan sangat mengejutkan,” papar Shepherd. Baca Juga Wolverine Terlihat Kembali Setelah Menghilang Selama 100 Tahun Penemuan ini dipublikasikan seminggu setelah para ilmuwan dari Ohio State University menemukan fakta bahwa lapisan es di Greenland yang telah mencair, tidak bisa kembali pulih. Michalea King, pemimpin studi dari Ohio State University mengatakan bahwa es telah hilang dalam jumlah besar, beberapa tahun terakhir. Ini menghasilkan perubahan pada bidang gravitasi Greenland. Greenland kehilangan sekitar 280 miliar metrik ton es setiap tahunnya. Es yang mencair tersebut, mengalir ke laut setiap tahunnya dan menjadi penyumbang terbesar kenaikan permukaan laut global. PROMOTED CONTENT Video Pilihan Pixabay Pemanasan global telah menyebabkan cuaca musim dingin yang lebih ekstrem. Fenomena itu yang disebut sebagai "Benua Arktika-Dingin Hangat" WACC, dan mereka menyelidiki bagaimana hubungan ini berubah dengan iklim yang menghangat. Dalam studi mereka, para peneliti melihat data iklim historis kemudian beralih ke model proyeksi iklim. Mereka mengeksplorasi hubungan potensial dan menilai bagaimana fenomena ini dapat dipengaruhi oleh berbagai skenario pemanasan global. Mereka menggunakan data iklim dari European Center for Medium-Range Weather Forecasting ECMWF selama hampir 40 tahun. Berdasarkan data itu para peneliti mengorelasikan suhu musim dingin di Asia Timur dan Amerika Utara dengan suhu Laut Barents-Kara dan Laut Siberia Timur-Chukchi di wilayah Arktika. Mereka mengamati bahwa suhu musim dingin yang lebih rendah di Asia Timur dan Amerika Utara biasanya disertai dengan suhu Laut Arktik yang lebih hangat. Namun, mereka juga menemukan bahwa di beberapa musim dingin, seperti musim dingin 2017/18 di Asia Timur, pola ini tidak berlaku. Temuan mereka menunjukkan bahwa keterkaitan tersebut mencakup ketidakpastian yang mungkin disebabkan oleh faktor selain suhu Laut Arktika. Meskipun demikian, dengan menggunakan proyeksi iklim dari percobaan Half degree Additional warming, Prognosis and Projected Impacts HAPPI, para peneliti menemukan bahwa pola WACC tetap bertahan bahkan ketika suhu global naik. HAPPI merupakan peranti yang ditargetkan untuk memproyeksikan iklim masa depan di bawah skenario pemanasan 1,5°C hingga 2°C. Namun, mereka menemukan bahwa korelasi antara suhu Laut Arktika dan suhu Asia Timur menjadi semakin tidak pasti dengan intensifikasi pemanasan global. “Kami menemukan bahwa hubungan antara pemanasan Arktik dan kejadian cuaca dingin di garis lintang tengah akan menjadi lebih tidak pasti di bawah iklim yang lebih hangat, menantang perkiraan suhu musim dingin di masa mendatang,” kata Yungi Hong, mahasiswa di GIST dan anggota tim peneliti. Baca Juga Peristiwa Cuaca Ekstrem Memicu Timbulnya Ancaman Penyakit Kulit Baca Juga Ilmuwan PBB Peringatkan Dunia Harus Segera Hentikan Baca Juga Kekerasan terhadap Perempuan Diperkirakan Naik seiring Cuaca Ekstrem Baca Juga Squall Line, Awan Hujan Badai Ekstrem yang Dipicu Perubahan Iklim “Studi kami menunjukkan bahwa sementara seseorang dapat mengharapkan gelombang dingin yang memicu pemanasan Arktik di garis lintang tengah untuk bertahan di masa depan yang lebih hangat, mereka akan menjadi lebih sulit untuk diprediksi,” tambah Prof. Jin-Ho Yoon. Peristiwa Arktika yang hangat di bawah iklim yang lebih hangat akan dikaitkan tidak hanya dengan benua yang lebih dingin di Asia Timur tetapi juga dengan benua yang lebih hangat. Fenomena ini bergantung pada proses telekoneksi yang juga diperumit oleh Arktika yang lebih hangat. Hasil penelitian ini menyoroti pentingnya upaya berkelanjutan untuk lebih memahami interaksi antara pemanasan Arktika dan iklim garis lintang tengah. Temuan ini sebagai sarana untuk menemukan prediktor alternatif untuk peristiwa cuaca musim dingin ekstrem yang akan datang. PROMOTED CONTENT Video Pilihan Ilmuwan, negarawan dan masyarakat Islandia baru-baru ini memasang plakat peringatan di gletser Okjökull yang kehilangan lapisan es dan statusnya sebagai gletser akibat pemanasan global oleh aktivitas manusia. Dalam monumen tersebut tertulis peringatan bahwa dalam 200 tahun mendatang, umat manusia akan menyaksikan gletser-gletser lainnya mengikuti jejak Okjökull. Sebuah plakat diletakkan sebagai peringatan atas hilangnya gletser Okjökull glacier karena perubahan iklim. Rice University, CC BY-SA Indonesia juga memiliki gletser seperti Islandia, yaitu di Pegunungan Jayawijaya. Tidak kurang dari 84,9% dari massa es di Pegunungan Jayawijaya telah mencair sejak tahun 1988, sehingga warisan alam ini pun diprediksi akan hilang dalam dekade mendatang. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, dampak perubahan iklim oleh emisi gas rumah kaca tidak hanya menyentuh gletser yang hanya ada satu-satunya di Indonesia ini, tetapi juga laut yang luasnya meliputi 70% dari wilayah Indonesia dan kedalamannya melebihi ketinggian Puncak Jaya. Baru-baru ini panel ilmuwan PBB untuk isu perubahan iklim atau IPCC Intergovernmental Panel on Climate Change merilis Special Report on Ocean and Cryosphere in a Changing_Climate SROCC, kajian terkait dengan kondisi laut dan kriosfer gletser, lapisan es, dsb di dunia. Saat ini saya terlibat dalam penulisan laporan iklim PBB mendatang atau Sixth Asessment Report untuk aspek kelautan, kriosfer dan kenaikan permukaan laut. Berikut penjelasan saya terkait hasil-hasil kajian SROCC yang perlu menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Laut semakin panas, semakin asam, dan semakin berkurang kadar oksigennya Sejumlah 104 pakar iklim dari 36 negara mengkaji status dan proyeksi dampak perubahan iklim terhadap laut dan kriosfer serta implikasinya bagi ekosistem dan manusia berdasarkan publikasi ilmiah. Hasil penelitian para ahli iklim mengungkap bahwa mencairnya lapisan es yang bermuara pada naiknya permukaan laut secara global merupakan satu dari beberapa efek domino dari perubahan iklim. Laporan IPCC menunjukkan, secara persisten, perubahan iklim menyebabkan laut semakin panas, semakin asam dan kekurangan kadar oksigen. Kenaikan permukaan laut yang berpotensi menenggelamkan pulau-pulau kecil tidak hanya terus terjadi, namun lajunya juga semakin cepat. Fenomena iklim esktrem seperti gelombang panas laut marine heatwave akan semakin sering terjadi dengan intensitas dan durasi yang meningkat terutama di daerah tropis. Begitu pula dengan fenomena ekstrem El Niño-Osilasi Selatan yang membawa bencana kekeringan dan banjir di Indonesia. Read more Indonesia perlu lebih banyak penelitian dampak sampah plastik di laut Dampak bagi Indonesia Sumber daya laut yang tergeser, tertekan dan berkurang Laporan SROCC mengisyaratkan beberapa catatan penting terkait dampak perubahan iklim bagi Indonesia sebagai negara kepulauan di kawasan tropis. Pertama, keanekaragaman hayati laut menjadi taruhan. Perubahan iklim turut mengubah ritme musiman dan distribusi spesies laut. Sejak tahun 1950an, secara global, spesies laut yang biasa hidup di kedalaman kurang dari 200 meter berpindah menjauhi kawasan tropis sejauh kurang lebih 52 kilometer per dekade. Hal serupa juga terjadi pada spesies-spesies laut dalam. Mengingat beragamnya spesies laut di Indonesia, maka perlu ada penelitian lebih lanjut tentang ritme musiman dan distribusi tersebut. Kedua, laporan SROCC menekankan bahwa terumbu karang merupakan ekosistem laut yang paling sensitif dibandingkan dengan ekosistem lainnya seperti padang lamun dan mangrove. Kondisi ini berpengaruh bagi Indonesia yang memiliki padang lamun terluas di Asia Tenggara dan 23% mangrove di dunia. Menurunnya jasa ekosistem lamun dan mangrove dapat mengurangi peran ekosistem laut pesisir dalam menyerap emisi karbon. Ketiga, pemanasan laut dapat menambah beban sektor perikanan dalam menghadapi isu overfishing dengan menekan potensi tangkapan ikan maksimal hingga sekitar 30% di perairan Indonesia apabila emisi gas rumah kaca dibiarkan meningkat sepanjang abad 21. Kombinasi antara pemanasan dan pengasaman laut juga berdampak negatif pada stok ikan dan binatang bercangkang, seperti kerang mutiara dan lobster. Tidak semua salah perubahan pada iklim Untuk dapat mengambil langkah adaptasi yang efektif, kita perlu memahami berbagai penyebab degradasi lingkungan laut yang tidak selalu disebabkan oleh perubahan iklim. Salah satu contoh klasik adalah kenaikan permukaan laut di Jakarta yang lebih banyak disebabkan oleh penurunan permukaan tanah karena penyedotan air tanah. Contoh lainnya, SROCC membedakan fenomena pengasaman atau penurunan pH air laut antara pengasaman laut ocean acidification dan pengasaman pesisir coastal acidification. Pengasaman laut merujuk kepada penurunan tingkat keasaman air laut akibat reaksi antara gas rumah kaca CO2 dan air laut. Namun, di kawasan perairan Indonesia juga terjadi pengasaman pesisir oleh aktivitas lokal manusia seperti pembuangan limbah, sehingga laju pengasaman air laut lebih tinggi dari tren global. Solusi-solusi lokal seperti penanggulangan limbah yang efektif dan restorasi ekosistem lamun yang mempengaruhi pH air laut secara lokal dapat mengurangi dampak dari pengasaman air laut bagi masyarakat sekitar. Read more Kisah para pahlawan pesisir Indonesia dari merusak menjadi melindungi SROCC dan negosiasi iklim SROCC menjadi masukan ilmiah penting bagi negosiasi iklim dalam UN Framework Convention on Climate Change Conference COP25 di Chile pada bulan Desember 2019 yang akan mengangkat tema kelautan atau Blue COP’. Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki peran penting dalam mengambil langkah yang konkret dan realistis terhadap isu perubahan iklim. Dalam laporan SROCC dipaparkan juga keuntungan yang diraih dari strategi adaptasi perubahan iklim yang ambisius dan efektif, seperti perlindungan terhadap masyarakat pesisir terutama daerah padat populasi atas dampak naiknya permukaan laut, yang sejalan dengan pembangunan berkelanjutan. Berbeda dengan daratan yang menjadi penyebab dan korban dari perubahan iklim, SROCC memaparkan bahwa laut adalah korban dari perubahan iklim. Kondisi laut yang semakin panas, asam dan kekurangan kadar oksigen memiliki implikasi bagi komitmen Indonesia dalam perlindungan keanekaragaman hayati maupun pemenuhan target Sustainable Development Goals. Hal ini karena menurunnya kemampuan menjaga biodiversitas laut dari berbagai tekanan lingkungan, potensi mitigasi gas rumah kaca dari sektor kelautan, dan pemanfaatan sumber daya laut yang berkelanjutan. Kajian ilmiah yang tertuang dalam SROCC, Blue COP serta UN Decade of Ocean Science 2021-2030 adalah momentum untuk melakukan langkah-langkah non business-as-usual dan inklusif yang akan diapresiasi oleh generasi mendatang. Ada sebagian permukaan Bumi yang dilapisi es dan dianggap sebagai wilayah beku abadi. Namun, sepertinya kondisi tersebut bisa berubah di masa yang akan datang. Pasalnya, perubahan iklim telah mencairkan beberapa bagian es di Bumi. NASA mengungkap bahwa ada 400 miliar ton gletser yang mencair di seluruh dunia sejak 1994 hingga saat lagi, pencairan gletser tersebut belum termasuk lelehan lapisan es yang terjadi di Antarktika dan Arktika. Nah, jika hal ini terus berlangsung, akan ada beberapa kejadian ekstrem di masa depan yang akan berdampak pada dunia. Seperti apa, ya? Yuk, disimak!1. Bumi akan semakin panasIlustrasi mengenai Bumi yang gersang di masa depan. MoshkovskaJika lapisan es terus meleleh, itu menandakan bahwa Bumi sedang mengalami peningkatan suhu. Jika hal ini terus berlangsung, di masa depan, bisa saja Bumi akan semakin hangat dan panas. Laman Center for Climate and Energy Solution menulis fakta bahwa kegiatan manusia membuat Bumi akan semakin hangat dan panas dari waktu ke melelehnya lapisan es di berbagai wilayah Bumi, hal ini juga menandakan bahwa Bumi sedang tidak baik-baik saja. Yup, jika semua lapisan es di Bumi meleleh, itu tandanya manusia akan hidup di tengah alam yang sangat tidak bersahabat. Suhu di Bumi mungkin akan sampai pada titik yang menghancurkan tanaman sumber Habitat di tempat-tempat dingin akan rusak dan musnahHabitat beruang kutub di Arktika. HoskinsJika tidak ada lagi es yang tersisa di wilayah kutub, semua habitat yang ada di sana akan rusak. Saat ini saja, ada begitu banyak bukti bahwa habitat di Kutub Utara dan Selatan Bumi sudah mengalami kerusakan. Beberapa jenis spesies karnivor di sana sudah mulai sulit untuk mendapatkan makanan. Akibatnya, mereka berjalan dan mencari makanan ke tempat-tempat yang sangat dalam National Geographic, beberapa kasus menyedihkan pernah terjadi pada sekelompok beruang kutub. Mereka sangat kelaparan dan tubuhnya sangat kurus akibat tidak adanya sumber makanan melimpah di Arktika. Penyebabnya adalah pencairan es yang sangat cepat dan mengubah ekosistem yang ada. Jika hal ini terus terjadi, akibatnya akan berantai dan keberadaan organisme kutub akan punah. Baca Juga Wajib Tahu! Sains Jawab 8 Pertanyaan tentang Fenomena di Alam Semesta 3. Bumi akan kekurangan cadangan air tawarEs adalah cadangan air tawar di Bumi. Christhope AndreSekitar 71 persen wilayah di Bumi adalah air. Namun, hanya sedikit bagian Bumi yang menyimpan cadangan air tawar bagi kehidupan di dunia. Menurut Badan Reklamasi Amerika Serikat USBR, jumlah air tawar bersih yang ada di Bumi tidak lebih dari 3 persen. Bahkan, sekitar 2,5 persen dari jumlah air tawar yang ada di Bumi masih berupa es dan bisa disimpulkan bahwa es dan gletser yang ada di berbagai wilayah Bumi merupakan cadangan air tawar terbesar. Sayangnya, cadangan tersebut akan hilang jika iklim di Bumi makin tidak bersahabat. Cadangan air tawar yang mencair akan mengalir ke lautan dan manusia akan makin sulit untuk mendapatkan air tawar dari alam mengingat tidak semua wilayah dingin di Bumi punya curah hujan Munculnya virus dan bakteri baru yang mungkin sangat berbahayaLapisan es di wilayah utara. Egil LilandMungkin hal ini akan terdengar seperti cerita-cerita dalam film bertema sains fiksi. Namun, ternyata virus purba yang terperangkap di dalam es pernah diungkap oleh ilmuwan. BBC Earth dalam lamannya mencatat bahwa ada bukti nyata mengenai virus atau bakteri yang tetap hidup di dalam es yang membeku. Pada Agustus 2016, di sudut terpencil Siberia, seorang anak meninggal dan 20 orang lainnya dirawat akibat wilayah tersebut sangat terpencil dan tidak memiliki hewan ternak, rasanya mustahil ada antraks di sana. Namun, tim dokter dan ilmuwan menemukan fakta mengerikan di sana. Ya, setelah dilakukan penyelidikan, wabah lokal yang terjadi disebabkan oleh bangkai rusa yang terperangkap es selama 75 tahun. Pada saat es mencair, bangkai rusa yang terinfeksi antraks tersebut menyebarkan bakteri secara tidak bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika di dalam es yang membeku juga ada virus atau bakteri purba yang bisa menginfeksi manusia secara masif. Secara teori, hal tersebut mungkin sebab virus bisa tidak aktif jika dalam keadaan membeku. Bukan tidak mungkin, dunia akan dilanda wabah mematikan di masa depan yang bahkan mungkin lebih parah ketimbang Banyak daratan di Bumi akan tenggelamPermukaan air laut yang nyaris sama dengan daratan. HoyosDalam lamannya, National Geographic menulis tentang perubahan yang akan dialami Bumi jika semua es di Bumi mencair. Dataran-dataran rendah di dunia jelas akan tenggelam, begitu juga dengan kota-kota yang letaknya tidak begitu tinggi. Perubahan besar terjadi pada tujuh benua yang ada di Bumi. Akan ada banyak wilayah darat yang terendam air dan mungkin akan tenggelam secara yang awalnya cukup tinggi di atas permukaan laut mungkin akan tampak sedikit lebih rendah. Dataran rendah yang kering akan menjadi sebuah danau air asin, bahkan laut yang tidak begitu dalam. Namun, perlu diingat bahwa kalkulasi akan hal ini bisa saja salah mengingat jumlah es di seluruh dunia juga tidak begitu masif. Meskipun begitu, menjaga dan melestarikan alam masih menjadi cara sederhana umat manusia untuk menyelamatkan Bumi dan seluruh lapisan es yang beberapa pembahasan mengenai dampak jika memang suatu saat es di Bumi mencair secara masif dan keseluruhan. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan kamu, ya! Baca Juga 6 Fenomena Alam Menarik yang Ada di Kawasan Antarktika IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

mencairnya es di kutub disinyalir hasil dari global warming