PandemiCOVID-19 yang merebak sejak 2020 membuat kegiatan berkumpul dan berkarya bersama ini sulit dilakukan. Akan tetapi, anak-anak tetap berkarya bersama keluarga di rumah. Seni(Kecil, halus, elok, indah) rupa (bentuk) adalah bentuk seni yang mempunyai nilai keindahan pada suatu benda. Seni lukis adalan seni tentang gambar-menggambar dan lukis -melukis. Seni pahat seni memahat (membuat patung dsb.) Seni rupa terdiri dari seni dua dimensi dan tiga dimensi. 4. 5 Unsur bentuk meliputi: not, motif, frase dan kalimat musik. Pengertian musik sebagai seni dan musik sebagai pengetahuan telah . banyak diutarakan oleh pakar. Dalam kamus be. sar bahasa Indonesia . dipaparkan makna kata "musik" sebagai ilmu atau seni tentang menyusun . nada atau suara dan hubungan tempo dalam rangka menghasilkan suara yang AllRelease Indonesia. Deliver complete news source. Search . Search PandemiCovid-19 di Tanah Air telah memberi dampak besar terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Vay Tiền Nhanh Chỉ Cần Cmnd. Kamu pernah membaca contoh creative writing? Salah satu tulisan yang pasti sangat menghibur untuk dibaca. Jenis tulisan yang bebas dari kekakuan karena panduan-panduan tertentu. Creative writing adalah teknik menulis kekinian yang lagi rame banget, Sob! Salah satu karya creative writing yang lagi menjamur adalah tulisan-tulisan di blog atau artikel-artikel populer yang mungkin sudah cukup sering kamu temui. Salah satunya adalah artikel yang sedang kamu baca itu menulis kreatif?gambar dari unsplashCreative writing atau yang kerap diterjemahkan menjadi menulis kreatif adalah teknik menulis bebas yang dilakukan tanpa ada panduan tertentu. Tulisan ini berbeda dengan jenis-jenis tulisan lain yang biasanya dibuat untuk keperluan formal dan punya panduan serta ketentuan writing merupakan teknik yang dilakukan secara bebas. Semua karyanya didasarkan pada imajinasi penulis. Nggak ada ketentuan apakah karya tersebut salah atau benar. Nggak ada ketentuan panjang atau isi dari tulisan kreatifAda banyak banget contoh creative writing. Kamu pasti pernah membaca salah satunya. Mungkin kamu juga pernah membuat salah satu karya menulis kreatif. Nggak percaya? Coba deh kamu ingat-ingat, pas zaman SD sampai SMA pernah mengerjakan tugas cerpen atau puisi, nggak?Puisi dan cerpen yang pernah kamu buat saat sekolah dulu adalah salah satu contoh creative writing. Selain puisi dan cerpen, contoh karya tulisan kreatif adalah novel, naskah film, naskah komik, opini, berita, bahkan artikel populer yang banyak kamu baca di blog-blog pribadi para khas tulisan kreatifCiri khas dari jenis tulisan ini adalah keluwesan dalam tulisannya. Nggak ada panduan atau ketentuan tertentu. Penulis bebas mengembangkan tulisan lewat imajinasinya. Boleh berupa tulisan panjang atau pendek. Bisa pula berupa tulisan fiksi maupun non-fiksi. Semua tulisan yang dibuat secara bebas dan bukan untuk keperluan ilmiah disebut sebagai tulisan writerNama keren orang di balik karya tulisan kreatif adalah creative writer. Semua orang bisa menyebut dirinya sebagai creative writer, tapi harus ada karyanya ya, Sob! Hehe…Siapakah merekaPara blogger yang mengisi blog-nya dengan tulisan-tulisan juga disebut sebagai creative writer. Mimin yang nulis artikel ini juga bisa disebut sebagai creative writer. Intinya, semua orang yang membuat karya tulisan kreatif disebut sebagai creative juga bisa menyebut dirimu sendiri sebagai seorang creative writer kalau kamu memiliki karya tulisan berjenis tulisan kreatif. Contohnya nih mungkin ada Sobat Jagoan Hosting yang kerap membuat tulisan seputar topik-topik interesting seperti game dan anime. Mimin kadang nemuin beberapa Sobat Jagoan Hosting yang menggunakan jasa layanan website dari Jagoan Hosting untuk digunakan sebagai blog ulasan anime. Keren-keren, lho!Sobat yang suka membuat ulasan seputar teknologi juga bisa disebut sebagai creative writer. Jadi, sebenarnya cakupan profesi ini sangat luas. Nggak ada batasan tertentu yang membuat seseorang nggak boleh disebut sebagai penulis tulisan yang dibutuhkan dalam creative writingCuma ada satu skill yang wajib dimiliki. Kira-kira apa, ya?Skill yang wajib dimiliki seorang creative writer adalah imajinasi! Yup, imajinasi adalah hal yang paling penting. Mereka hanya bisa menciptakan tulisan kreatif jika memiliki imajinasi yang bagus. Mereka harus mengembangkan topik-topik tertentu menjadi tulisan yang lebih nggak cuma itu, Sob! Ada satu lagi nih yang penting. Hal penting berikutnya adalah website yang mendukung! Kalau kamu benar-benar mau menggeluti dunia tulisan kreatif, kamu memerlukan website yang nggak cuma menarik tapi juga responsif. Kamu nggak perlu bingung, kamu bisa tanya-tanya dulu atau langsung liat pilihan paketnya di sini. Kapan lagi bisa bikin website bareng penyedia layanan Hosting Terbaik years of experience in providing readers with the latest insights and best practices in various fields related to Business, Technology, WordPress, Website Development and Digital Marketing. Menulis kreatif lebih pas ketimbang penulisan kreatif. Karena menulis kreatif lebih ke proses, sedangkan penulisan kreatif bertumpu pada hasil. Maka menulis kreatif adalah sesuatu aktivitas menulis untuk sastra. Menulis kreatif menekankan pada sikap aktif seseorang untuk menulis, kemudian mampu menemukan proses kreatifnya agar tulisan menjadi baik dan menarik. Berbeda dengan “penulisan kreatif” kesannya terlalu statis. Penulisan kreatif lebih dekat ke karya yang sudah jadi, orientasinya pada hasil kreatif sesungguhnya adalah proses menuangkan ide atau gagasan sebagai wujud pengendalian pikiran-pikiran kreatif agar dapat menjadi tulisan yang baik dan menarik. Boleh jadi, menulis kreatif adalah ekspresi cara berpikir dalam menuangkan ide gagasan yang tidak biasa ke dalam bentuk tulisan yang beda. Menulis kreatif adalah menulis untuk sastra. Entah itu, berupa puisi, cerpen, novel maupun naskah kreatif adalah proses menulis dengan cara yang beda. Beda berarti tidak sama dengan yang lainnya. Menulis yang beda. Lalu, apanya yang berbeda dalam menulis kreatif? Setidaknya, ada 4 empat hal yang membuat “proses menulis kreatif” sehingga mampu menghasilkan tulisan yang berbeda pula, yaitu1. Perilaku menulis yang beda dari perilaku umum, seperti karya-karya Chairil Anwar dengan puisi ekspresif tapi berlirik longgar atau Sutarji Calzoum Bachri dengan puisi Keadaan batin dalam menulis yang ebda sehingga mampu menghadirkan “roh” ide dalam cerita, seperti N. Riantiarno membuat “Malin Kundang”dalam versi modern. 3. Pikiran yang beda dalam menulis sehingga agak menentang arus atau mungkin terkesan njlimet, seperti Danarto dengan manusia-manusia “aneh” pada setiap Karya yang beda dan cenderung baru, baik isi maupun ceritanya seperti Cerpen Putu Wijaya, Drama Arifin C Noer yang plot-nya sering non menulis kreatif adalah proses process yang apabila dilakukan dengan baik tahapannya secara konsisten maka akan menjadi keterampilan skill untuk melahirkan karya yang beda, karya sastra yang memiliki “jalan kreatifnya” kreatif memang tidak mudah tapi bukan berarti tidak bisa. Menulis kreatif seringkali jadi momok bagi banyak orang. Mengapa? Karena menulis dianggap susah alias sulit. Bisa jadi iya. Karena mungkin selama ini, menulis lebih dilihat sebagai pelajaran, sebagai teori. Padahal hakikatnya, menulis adalah sebuah perilaku yang sangat membutuhkan keberanian. Sungguh, menulis tidak membutuhkan ruang kuliah atau buku semata. Tapi menulis adalah perbuatan, tindakan nyata untuk menuangkan ide dan gagasan secara tertulis. Resep terbaik dalam menulis adalah tulis, tulis, dan tulis. Bukan niat, niat lalu lenyap….Selain menulis sebagai proses, menulis kreatif pun bertumpu pada mentalitas kreatif. Mentalitas untuk menghasilkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan orang. Berbeda karena tidak biasa. Kreatif itu adacpada diri setiap orang. Karena kreatif adalah potensi. Bukan soal besar atau kecil kreativitas. Tapi bagaimana cara kita menemukan dan memperlalukan potensi kreatif yang kita diketahui, menulis kreatif juga dekat dengan imajinasi. Walau tidak semua imajinasi adalah pikiran kreatif. Oleh karena itu, menulis kreatif masuk ke dalam pembelajaran sastra, lawannya menulis ilmiah. Roh dari menulis kreatif adalah adanya orientasi sastra, cara pandang terhadap suatu hal yang beda, dan gaya bahasa yang tidak biasa. Menulis kreatif harus memadukan proses menulis dengan kreativitas sebagai mentalitas seseorang. Bukankah imajinasi yang dituangkan ke dalam tulisan lebih baik daripada kita menyimpan imajinasi itu sendiri?Puncak tertinggi dari menulis kreatif adalah menghasilkan KARYA KREATIF dengan segala kekurangan dan kelebihannya perlu ada keberanian untuk menulis sebuah karya sastra apapun bentuknya. Lebih rendah dari berkarya adalah mampu bergelut dengan PENGALAMAN KREATIF dan ESTETIS. Kita harus mengalami atau melakukan kegiatan kreatif untuk melatih kepekaan, misalnya dengan membaca puisi, cerpen, novel atau mementaskan naskah/teater. Atau yang paling minim dalam menulis kreatif, kita harus bergumul dengan ILMU PRAKTIS tentang apa dan bagaimana berproses untuk mencipta karya sastra, bukan mempelajari ilmu zaman now, di era seperti sekarang, kita tidak cukup hanya menulis atau menghasilkan ide. Tetapi juga diperlukan sikap kreatif yang terus-menerus. Sikap yang beda untuk membaca “pasar” dan menelurkan karya-karya millenial. Bayangkan jika kita memiliki kemauan dan kemampuan untuk membuat naskah untuk sinetron atau “short story” setingkat FTV. Atau membuat puisi atau cerpen yang dapat dipublikasikan di media cetak. Sungguh, bukan hanya dapat oncome tapi bisa jadi peluang profesi yang ciamikk. Hampir semua orang terkenal di bidang seni atau sastra saat ini, adalah mereka yang memiliki mentalitas “kreatif” yang dipadu dengan keterampilan menulis. Jadilah karya buah tangan menulis kreatif yang luar menulis kreatif? Karena menulis kreatif memiliki dua poin penting; 1 kemampuan menulis yang baik dan 2 kreativitas sebagai cerminan karya yang BEDA dibandingkan yang lain sehingga menarik perhatian orang sangat penting menggalakkan menulis kreatif. Menulis dengan cara yang beda untuk sastra. Menulis kreatif adalah kompetensi. Seperti dalam buku “Kompetensi Menulis Kreatif” karya Syariudin Yunus, yang diterbitkan Ghalia Indonesia pada 2015 tiap perasaan, pengetahuan, dan pengalaman yang kita punya dalam tulisan kreatif. Tulisan untuk sastra yang lebih estetis, lebih memberikan pengalaman batin kepada now, tiap orang boleh punya kehebatan masing-masing. Tapi itu semua tidak menjadi berarti bila tidak dituliskan. Perasaan, pengetahuan, bahkan pengalaman sehebat apapun. Menjadi tidak berguna dan tidak diapresiasi orang lain karena tidak dituliskan. Ide dan gagasan sebesar apapun. Sama sekali tidak berguna jika hanya sebatas ide tanpa mau dituliskan secara nyata. Untuk itu, sangat dibutuhkan kemampuan “menulis kreatif”… tabikk MenulisKreatif KompetensiMenulisKreatif Creativity is a keyword in education field in the future. The book entitled Kreativitas, Seni, dan Pembelajarannya Creativity, Arts, and Learning promotes a paradigm "arts education as the creativity education". This book consists of two main chapters various concepts of creativity and their implementation in art education. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free i K R E A TI V I T A S , S E NI , D AN P E M B E L AJ A R AN N Y A KREATIVITAS, SENI & PEMBELAJARANNYA ii K R E A TI V I T A S , S E NI , D AN P E M B E L AJ A R AN N Y A iii K R E A TI V I T A S , S E NI , D AN P E M B E L AJ A R AN N Y A Dr. Eko Sugiarto, KREATIVITAS, SENI & PEMBELAJARANNYA PENERBIT ............. iv K R E A TI V I T A S , S E NI , D AN P E M B E L AJ A R AN N Y A KREATIVITAS, SENI & PEMBELAJARANNYA Penulis Dr. Eko Sugiarto, Penata letak & sampul Dr. Eko Sugiarto, Editor Prof. Dr. Tjetjep Rohendi Rohidi, MA Diterbitkan oleh LKiS Salakan Baru No. 1 Sewon Bantul Jalan Parangtritis KM 4,4 Yogyakarta Telp. 0274 387194 Fax 0274 379430 e-mail lkis Anggota IKAPI Cetakan Pertama, 2019 Hak cipta dilindungi undang-undang pada Penulis Perpustakaan Nasional Katalog dalam Terbitan KDT Eko Sugiarto Kreativitas Seni & Pembelajarannya/Eko Sugiarto-Yogyakarta LKiS, 2019 xiv + 192 halaman; 16 x 24 cm ISBN 978-623-7177-04-3 Undang-Undang RI Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Ketentuan pidana pasal 72 2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait sebagaimana dimaksud pada ayat 1, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 lima tahun dan/atau denda paling banyak Rp lima ratus juta rupiah. v K R E A TI V I T A S , S E NI , D AN P E M B E L AJ A R AN N Y A P r a k a t a Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah Swt. atas limpahan rahmat-Nya sehingga buku “Kreativitas, Seni dan Pembelajarannya” dapat selesai disusun dengan baik. Telah lama sebenarnya buku ini ingin ditulis sebagai bentuk tanggung jawab akademik saya kepada masyarakat secara umum, serta bidang ilmu seni dan pendidikan seni secara khusus. Tanggung jawab tersebut memang tidak ringan, oleh karena itu tulisan yang sebenarnya telah dimulai sejak lama, baru selesai saat ini. Masalah yang sejak lama memantik saya adalah kerisauan akan jati diri dan masa depan seni yang masih belum menjadi kebanggaan masyarakat secara umum, padahal seni adalah ruang bagi kreativitas yang sangat dibutuhkan sebagai modal pada abad 21. Ketika orang-orang di suatu bangsa menemukan kekuatan kreatifnya, dapat berdampak besar bagi harga diri dan prestasinya secara keseluruhan. Di segi yang lain, dalam bidang pendidikan formal, mata pelajaran seni sebagai sarana menumbuhkan dan mengembangkan kreativitas di samping kesadaran budaya seakan-akan belum menunjukkan posisi yang penting dan kuat, mengimbangi mata pelajaran sains yang rasionalistik. Inspirasi menulis buku kemudian semakin kuat. Berawal dari obrolan di antara saya dengan kawan-kawan dosen muda di Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Semarang, sehingga berujung pada kegelisahan kami ikhwal minimnya buku-buku referensi kreativitas, seni, dan pendidikan seni di Indonesia. Akhirnya kegelisahan itu mendorong saya untuk menulis buku ini secara serius. Tantangan terbesar dalam menulis justru pada tahap awal, ketika mulai memetakan dan memposisikan diri terhadap keberpihakan pendekatan, teori, dan konsep-konsep kreativitas, inovasi, seni dan pendidikan seni. Persoalan ini memang terkesan sepele, tetapi justru paling mendasar dan paling penting bagi saya sebagai pijakan ideologis untuk menentukan ke arah mana buku vi K R E A TI V I T A S , S E NI , D AN P E M B E L AJ A R AN N Y A ini akan diorientasikan. Pijakan yang pertama, saya memulai pembahasan tentang dasar-dasar pemahaman terhadap kreativitas dan inovasi. Pijakan kedua, saya mencoba mengaitkan kreativitas dengan bidang yang saya selami selama ini, yaitu seni dan pendidikan seni serta implikasi pelaksanaannya. Uraian di dalam buku ini dibuat seringkas mungkin agar mudah dipahami. Secara runtut buku ini mencoba menguraikan konsep-konsep kreativitas dan inovasi; sumber-sumber kreativitas dan inovasi; posisi kreativitas, seni dan pendidikan seni; kategori-kategorinya; peran pendidikan seni dalam pengembangan kreativitas; serta implementasi dan penilaiannya. Uraian tersebut walaupun terlihat diarahkan bagi tujuan praktis, akan tetapi bembahasan di dalamnya lebih banyak bersifat teoretik, sebagai dasar bagi kebijakan praktis. Di dalam pengamatan saya khususnya pada penelitian maupun praksis pendidikan di Indonesia, isu-isu kreativitas dalam seni dan pendidikan seni sebagai sesuatu yang mendesak di abad 21, masih belum banyak diangkat dan diperjuangkan. Kehadiran buku ini di hadapan pembaca menjadi pelengkap, baik bagi penelitian, pengkajian, maupun praksis pendidikan seni. Kehadiran buku ini sekaligus juga diperuntukkan bagi mahasiswa jenjang S1, S2, dan S3 tentang referensi kreativitas seni dan pendidikan seni, serta persoalan praksis yang banyak dikeluhkan oleh para praktisi pendidikan di sekolah. Kehadiran buku ini tidak terlepas dari peran berbagai pihak. Kepada semua yang telah memantik dan mendorong saya untuk menulis, memberikan semangat dan sumbangan pemikiran, tiada kata yang pantas terucap selain terima kasih yang sebesar-basarnya. Khususnya kepada guru saya, Prof. Dr. Tjetjep Rohendi Rohidi, yang pemikiran-pemikiran ideologisnya banyak melekat dalam benak saya selama ini, saya ucapkan terimakasih, semoga kesehatan dan keberkahan menyertai Bapak dan keluarga. Demikian juga untuk seluruh rekan di Jurusan Seni Rupa FBS UNNES yang telah berbagi ilmu, penulis mengucapkan terima kasih. Proses penyusunan buku yang cukup lancar tidak lepas dari peran istri saya, Meina Febriani, yang senantiasa kritis menyunting vii K R E A TI V I T A S , S E NI , D AN P E M B E L AJ A R AN N Y A buku ini, kebetulan sebagai pengajar di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS UNNES. Kepadamu kuucapkan banyak terima kasih. Akhirnya, mudah-mudahan tulisan ini dapat memberikan manfaat kepada berbagai pihak yang berkecimpung di bidang seni dan pendidikan seni atau di bidang ilmu lain yang menggunakannya. Semoga tulisan ini juga dapat menjadi salah satu referensi bagi penggunanya yang diletakkan sebagai dasar berpijak bagi pengajaran atau penelitian, sehingga dapat memperkaya khasanah keilmuan di Indonesia. Amin. Salam Budaya, Salam kreatif, Semarang, Mei 2019 Penulis viii K R E A TI V I T A S , S E NI , D AN P E M B E L AJ A R AN N Y A ix K R E A TI V I T A S , S E NI , D AN P E M B E L AJ A R AN N Y A Kata Pengantar Prof. Dr. Tjetjep Rohendi Rohidi,  Guru Besar Bidang Antropologi Seni, Universitas Negeri Semarang  Ketua Program Studi S2/S3 Pendidikan Seni, Pascasarjana, Universitas Negeri Semarang 2011-2018  Ketua Asosiasi Tradisi Lisan ATL Jawa Tengah Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Sebuah buku, dalam kategori akademik, merupakan rangkaian tulisan yang disusun berdasarkan pengalaman penulisnya dalam menggeluti keilmuannya. Buku yang ada di hadapan pembaca ini berisikan endapan pemikiran penulisnya, Dr. Eko Sugiarto, yang ditulis dari pengalaman mengikuti perkuliahan dan pengalaman mengajarnya selama di Universitas Negeri Semarang. Dr. Eko Sugiarto, adalah lulusan Doktor termuda yang lulus dari Program Studi S3 Pendidikan Seni, Pascsarjana, Universitas Negeri Semarang UNNES, dan yang selesai pada usia 29 tahun. Dalam masa-masa studi dan mengajarnya di UNNES, yang bersangkutan aktif mengikuti berbagai kegiatan keilmuan dalam berbagai bentuknya, antara lain penelitian, pengabdian pada masyarakat, pelatihan, workshop, seminar di berbagai perguruan tinggi, dan menulis artikel di jurnal-jurnal ilmiah. Dalam ruang lingkup bidang keilmuan seni rupa, salah satu fokus perhatiannya yaitu pada masalah kreativitas, khususnya dalam konsep dan penerapannya dalam bidang pendidikan seni. Kreativitas, memang menjadi sentral dalam pembelajaran seni, baik sebagai proses maupun tujuan pelaksanaannya. Buku ini membahas secara komprehensif konsep-konsep kreativitas seni dan implikasi operasionalnya dalam praksis pendidikan seni. Tepatnya, pendidikan seni sebagai pendidikan x K R E A TI V I T A S , S E NI , D AN P E M B E L AJ A R AN N Y A kreativitas. Pendidikan kreativitas tidak dapat muncul tanpa pemahaman yang baik dan mendalam tentang krativitas, fenomena-fenomena yang menunjukkan kreativitas, serta cara-cara membangun kapasitas kreatif. Kreativitas sebagai sebuah konsep pada umumnya dipahami sebagai pengelolaan mental dan intelektual yang mengejawantahkan sesuatu yang baru yang belum pernah ada sebelumnya, dalam bentuk gagasan, susunan, kompisisi, konsep, sistem, bentuk, gaya, atau juga produk. Dalam pandangan ini, pengembangan kreativitas harus memiliki modus vivendi dengan nilai-nilai lama, tanpa menjadi sanderanya. Pengembangan kreativitas berarti bahwa perlu dicari dan dibangkitkan budaya kreatif, mendorong untuk menghadapi masalah-masalah baru, menyesuaikan dengan kehidupan baru di masa yang akan datang dengan lebih baik. Generasi milenial saat ini mau tidak mau dihadapkan pada tantangan era disrupsi yang tak terelakkan. Untuk menghadapi dan menangani tantangan tersebut, salah satu usaha kritis yang perlu dilaksanakan adalah membangun keunggulan kompetitif yang mewujud dalam tekonologi, pengetahuan, dan keterampilan kreatif melalui suatu proses pendidikan yang dirancang secara kreatif pula. Pendidikan kreatif adalah pendidikan yang dirancang melalui cara-cara dan pola-pola tertentu, yang mampu memberi peluang kepada para pembelajarnya untuk berimaginasi, mampu mengekspresikannya secara bebas dan mandiri, serta memberi dukungan bagi pendidikan yang menyeluruh terhadap perkembangan fisik, intelektual, moral, dan spiritual. Setiap manusia mempunyai potensi kreatif. Dalam hal ini, seni menyediakan lingkungan dan praktik kepada para pembelajar terlibat secara aktif dalam pengalaman, proses, dan pengembangan kreatif. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa mengenalkan pembelajar kepada proses seni, sambil menyertakan unsur-unsur budaya miliknya ke dalam pendidikan, telah menanam benih dalam diri setiap individu suatu kesadaran krativitas dan keberanian mengambil langkah dengan imaginasi yang subur. xi K R E A TI V I T A S , S E NI , D AN P E M B E L AJ A R AN N Y A Pendidikan Seni, dalam hal ini, memiliki peranan dan posisi strategis yang memungkinkan untuk menumbuhkembangkan manusia-manusia kreatif yang memiliki kesadaran budaya dalam menghadapi masalah tersebut. Dalam konteks ini pula, pengembangan kreativitas memang tidak dapat dilepaskan dari cara-cara mengelola pembelajaran yang kreatif. Pembelajaran kreatif penyangkut persoalan guru/orang tua, materi dan sumber belajar, anak sebagai pembelajar, media, dan metode pembelajarannya. Secara sistematis, buku ini telah menjabarkan semuanya dalam kerangka teoretik yang jelas sebagai acuan operasionalnya dalam praktik pendidikan seni. Sekalipun buku-buku yang berkaitan dengan kreativitas sudah ada tersedia, namun juga tidak terlalu mudah diperoleh. Oleh karena itu, saya kira buku ini layak untuk dibaca dan dalam kapasitasnya juga dapat menjadi rujukan untuk penulisan ilmiah, menjadi bahan bacaan yang penting bagi mahasiswa dan pembaca yang berada dalam bidang pendidikan seni. Arti pentingnya bukan hanya untuk pembaca dalam bidang pendidikan seni saja, melainkan juga dapat dimanfaatkan oleh para pembaca dari bidang ilmu lainnya, untuk menambah, atau melihat sisi lainnya yang menarik. Semoga bermanfaat. Semarang, Mei 2019 Tjetjep Rohendi Rohidi xii K R E A TI V I T A S , S E NI , D AN P E M B E L AJ A R AN N Y A xiii K R E A TI V I T A S , S E NI , D AN P E M B E L AJ A R AN N Y A Daftar Isi Prakata — v Kata Pengantar — ix Daftar Isi — xiii Daftar Gambar — xv BAB 1 PENDAHULUAN — 1 Masalah Umum Kreativitas — 2 Orientasi Buku — 5 Struktur Buku — 6 BAB 2 KREATIVITAS DAN INOVASI — 9 Konsep Kreativitas — 9 Konsep Inovasi — 20 BAB 3 SUMBER KREATIVITAS DAN INOVASI SENI — 29 Sumber-sumber Kreativitas dan Inovasi Internal — 30 Sumber-sumber kreativitas dan Inovasi Eksternal — 37 BAB 4 HUBUNGAN KREATIVITAS, SENI, DAN PENDIDIKAN SENI — 61 Pentingnya Kreativitas dalam Pendidikan Seni — 68 Seni dan Kreativitas Implikasi dalam Pembelajaran — 71 BAB 5 KATEGORI-KATEGORI KREATIVITAS DALAM PENDIDIKAN SENI — 77 Memahami Posisi Kreativitas dalam Pendidikan Seni — 77 Hierarki Kreativitas — 88 BAB 6 PERAN PENDIDIKAN SENI DALAM PENGEMBANGAN KAPASITAS KREATIF — 101 Konsep Pendidikan Seni — 102 Kapasitas Kreatif dalam Pendidikan seni — 111 xiv K R E A TI V I T A S , S E NI , D AN P E M B E L AJ A R AN N Y A BAB 7 STRATEGI MENCIPTAKAN BUDAYA KREATIF DALAM PENDIDIKAN SENI DI SEKOLAH DAN KELUARGA — 119 Pembelajaran yang Kreatif — 121 Stimulasi Kreativitas dalam Pembelajaran Seni— 134 Guru yang Kreatif — 142 Model-Model Pembelajaran untuk Membangun Kreativitas dalam Pendidikan Seni — 144 Contoh Kasus Pembelajaran Kreatif di Sekolah — 154 BAB 8 MENILAI KREATIVITAS DALAM PEMBELAJARAN SENI — 161 Memahami Penilaian Kreativitas dalam Pembelajaran seni — 162 BAB 9 PENUTUP — 173 Melaksanakan Pendidikan-Kreatif di Tengah Fenomena Perubahan Kurikulum Pendidikan Seni — 174 DAFTAR PUSTAKA — 179 INDEKS — 185 BIODATA PENULIS— 191 xv K R E A TI V I T A S , S E NI , D AN P E M B E L AJ A R AN N Y A Daftar Gambar Gambar Ruang Lingkup Gagasan, Tindakan, dan Produk Kreatif — 11 Gambar Bagan Cakupan Kreativitas — 16 Gambar Posisi Kreativitas dan Inovasi — 21 Gambar Reimagined of Mona Lisa & The Scream — 25 Gambar Seni Instalasi Karya Hanafi, “Demografi dalam Bakiak” tahun 2016 di Galeri Nasional — 26 Gambar Bagan Sistemik Sumber Internal Kreativitas dan Inovasi — 31 Gambar Ilustrasi Keluarga yang Memberikan Peluang Kreatif untuk Anak — 44 Gambar Interrelasi Unsur Kebijakan Institusional, Proses Pembelajaran, dan Media/Sumber Belajar — 48 Gambar Ruang Kelas kreatif Dapat Memberikan Motivasi Eksternal bagi Kreativitas Siswa — 52 Gambar Kreativitas Masyarakat Banyuwangi dalam Banyuwangi Festival 2016 — 54 Gambar Proses Pengolahan Bahan Bambu — 58 Gambar Hubungan seni, kreativitas, dan pendidikan seni — 62 Gambar Kategori Kreativitas — 78 Gambar Lukisan Karya I Nyoman Masriadi — 80 Gambar Lukisan Karya Heri Dono — 80 Gambar Lukisan Karya Danni Febriana — 82 Gambar Lukisan Karya Arif Fiyanto — 83 Gambar Foto a dan b, Pembelajaran Kerajinan Anyaman pada Siswa SD 1 Payaman di Rumah Perajin — 87 Gambar Hirarki Kreativitas Taylor — 89 Gambar Foto a dan b, Aktivitas Bermain dan Belajar di TK Pembina Kabupaten Kudus — 90 Gambar Gambar Vista Nauva Putram 5 tahun — 91 Gambar Gambar Farhan 5 tahun — 92 xvi K R E A TI V I T A S , S E NI , D AN P E M B E L AJ A R AN N Y A Gambar Gambar Rasya Ayu Amelia 5 tahun — 92 Gambar Abstraction by Nasirun — 86 Gambar Bagan Konsep Pendidikan Seni — 104 Gambar Contoh Puzzle untuk Media Pembelajaran Pengenalan Hewan — 107 Gambar Bagan Pembelajaran Kratif dalam Pembelajaran Seni — 121 Gambar Bagan Seni sebagai Pengalaman Kreatif — 126 Gambar Interdisiplin dalam Pembelajaran — 145 Gambar Guru Sedang Membangun Orientasi Siswa dalam Pembelajaran — 155 Gambar Proses Berkarya Seni Lukis oleh Siswa — 157 Gambar Karya Siswa SMP N 3 Kudus dalam Pembelajaran Seni Rupa — 157 Gambar Karya Siswa SMA 5 Purwokerto dalam Pembelajaran Seni Rupa — 159 xvii K R E A TI V I T A S , S E NI , D AN P E M B E L AJ A R AN N Y A Book Order ekosugiarto ... The intercultural adaptation process is an interactive process that develops through the communication activities of individual newcomers with their new socio-cultural environment Utami, 2015. One of the manifestations of adaptation to changes in society, can be done through a process of creativity or creative ability as well as a learning process Sugiarto, 2019;Agustini, 2019. Adaptation to a new environment will be easier if there is good communication between new individuals/ newcomers and native individuals Gudykunst, 2007. ...This study aims to identify, reveal, analyze and describe adaptation of Andy Irawan Music's efforts to deal with the Covid-19 pandemic in the wedding music industry. The author uses an interdisciplinary approach, by borrowing theories and concepts from the disciplines of musicology, sociology, and economics. The object in this study is industry and adaptation, with the subject Andy Irawan Music. The research design uses an interpretive case study located in Semarang. The data were collected through observation, interviews, and documentation. The results show that Andy Irawan Music could adapt during the Covid-19 pandemic. Adaptation efforts made by Andy Irawan Music include appearing with new formations, optimizing the use of social media/ digital platforms, applying virtual music, following recommended health protocols, participating in wedding showcases, and creating Andy Irawan Disciples.... Something that is created can be tangible ideas or works that can be theoretical or practical. Art is seen as a media for the development of creativity Salam, 2014;Sugiarto, 2019. Rohidi 2014 said that as a model of knowledge, visual art is a model of knowledge with art as the most important element. ...Purpose The article analyzes the illustration artworks produced by Virtual Community Hijabographic as a media to disseminate religious values. Hijabographic as one of the Muslim women's communities in Indonesia is one of the pioneer virtual communities that creates various illustration artworks aimed to perform da’wah on social media Instagram, also as a media to ingrain Islamic values. Methodology The primary method is virtual ethnography; we use it to uncover social interactions between members of the Hijabographic community that creates a natural response and a stimulus for community members to express it in the form of illustration artworks published through social media. Result The results showed that the illustration artworks by Hijabographic are medium to achieve educational goals, in this case, is religious education. Illustration artwork is not merely created to fulfill the purpose of art, but also as a tool to find the self-fulfillment of illustrators in performing da’wah proselytization, transmitting Islamic values and to foster awareness of other Muslim females to become pious individuals. Applications This research can be used by virtual communities, scholars and visual arts learners. Novelty/Originality Building on the insight that illustration artworks by virtual community Hijabographic become a new model to perform da’wah on social media. These illustration artworks influence a member's aesthetic experience and personal's understanding of strengthening Islamic Siswa SMA 5 Purwokerto dalam Pembelajaran Seni Rupa -159GambarGambar Karya Siswa SMA 5 Purwokerto dalam Pembelajaran Seni Rupa -159

menulis dalam kreativitas berkarya seni musik diawali dengan