RepublikIndonesia merupakan negara yang berusia 70 tahun sejak proklamasi kemerdekaannya yaitu 17 Agustus 1945. Indonesia dikenal sebagai negara yang besar dengan luas wilayah lebih dari 1.900.000 kilometer persegi dan merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari sekitar 17.000 pulau sehingga membuat Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia.
Taktanggung-tanggung, Anies bahkan menargetkan bahwa Jakarta harus memiliki 1.150.242 titik sumur resapan. Per 9 November 2021, sumur resapan yang digadang-gadang bisa menjadi solusi penanganan
Intensitashujan (mm/jam) x luas bidang kedap (m2) dibagi laju Peresapan Air per Lubang (liter perjam) . Sebagai contoh untuk daerah dengan intensitas hujan 50 mm/jam (hujan lebat), dengan laju peresapan air per lubang tiga liter per menit (180 liter/jam) pada 100 m2 bidang kedap, perlu dibuat sebanyak (50 x 100): 180 = 28 lubang.
Muarasungai pun terus bergeser ke arah laut, semakin menjauh dari kompleks percandian. Nama-nama tempat di kawasan Batujaya, Karawang Utara, banyak yang berkaitan dengan air atau laut. Misalnya Telukampel, Telukbango, atau Telukbuyung. Nama-nama tempat ini sekarang berada jauh dari pantai.
Banjiradalah peristiwa klasik di DKI Jakarta, mulai dari zaman belanda hingga pemerintahan gubernur fenomenal Ir.Joko Widodo. Dalam sejarah, banjir di Jakarta terjadi pada , 1918, 1979, 1996, 2002, 2007, 2012, 2013, dan yang tterakhir pada Januari 2014, bahkan ada isu "Jakarta Tenggelam pada 2030.
Vay Tiền Nhanh Ggads. Home Peristiwa Sabtu, 06 November 2021 - 1710 WIBloading... Kenaikan air pasang laut atau yang lebih dikenal banjir rob telah merendam sejumlah wilayah Jakarta Utara, Sabtu 6/11/2021. Foto MNC Portal/Yohannes Tobing A A A JAKARTA - Kenaikan air pasang laut atau yang lebih dikenal banjir rob telah merendam sejumlah wilayah di Jakarta Utara, Sabtu 6/11/2021. Salah satunya di kawasan Muara Baru, Penjaringan, Jakarta satu petugas keamanan di sekitar Suprapto mengatakan, banjir ini terjadi sejak pagi tadi dan sudah terjadi selama empat hari itu terjadi karena air laut yang meluap. Baca Juga "Banjir ini sudah dari jam 8 pagi tadi, tapi biasanya cepat surutnya. Ini Banjir juga biasanya terjadi cuma empat hari doang biasanya," ucap Suprapto saat ditemui Suprapto, biasanya ketinggian banjir rob di sekitar bisa mencapai ketinggian 50 cm. Akibat pasangnya air laut ini, aktivitas perdagangan di sekitar menjadi terganggu."Cukup terganggu pastinya, karena kalau banjir motor jadi tidak bisa masuk dan barang juga tidak bisa keluar ataupun masuk jadinya sulit," terang pantauan wartawan MNC Portal, banjir ini telah menggenangi sejumlah ruas jalan utama di wilayah pelelangan ikan Nizam banjir ini, banyak pengendara baik motor maupun mobil mencari jalan pintas untuk menghindari terkena banjir. Adapun yang nekat melintas namun akhirnya itu, banyak warga di sekitar yang memilih menumpang truk besar untuk bisa melewati banjir ini baik yang berangkat ke kantor maupun Muara Baru, banjir rob juga menerjang permukiman warga di Muara Angke, Pluit, Penjaringan dan Pelabuhan Kali Adem sejak tadi pagi. Baca Juga mhd banjir jakarta banjir rob jakarta utara air laut naik muara angke Baca Berita Terkait Lainnya Berita Terkini More 10 menit yang lalu 1 jam yang lalu 4 jam yang lalu 6 jam yang lalu 7 jam yang lalu 8 jam yang lalu
Bulan Maret adalah bulan yang spesial. Hari Air Sedunia baru saja kita peringati pada tanggal 22 Maret yang lalu. Momen ini sekaligus dapat kita jadikan bahan renungan untuk melihat perairan laut yang tercemar akibat lemahnya praktik manajemen sampah daratan dan daerah aliran sungai. Dalam sebuah rilis penelitian yang diterbitkan tahun 2015, para peneliti dari Universitas Georgia yang dipimpin oleh Jenna Jambeck membuat pemeringkatan negara-negara pembuang sampah plastik terbanyak ke laut. Dari estimasi total 275 juta metrik ton MT sampah plastik yang diproduksi dari 192 negara di seluruh dunia pada tahun 2010, diperkirakan terdapat antara 4,8 – 12,7 juta MT masuk ke lautan lepas. Indonesia dalam penelitian tersebut, berada dalam posisi nomor dua dibawah Tiongkok dan berada satu peringkat di atas Filipina . Adapun ketiga negara ini memiliki kesamaan, yaitu sama-sama negara berkembang di Asia, berpenduduk urban padat, dan memiliki batas wilayah yang langsung berbatasan dengan laut. Berbasiskan data 2010, Indonesia menjadi peringkat kedua negara “penyumbang” sampah plastik terbesar di dunia yaitu sebesar 3,2 juta ton, setelah Tiongkok yang sebesar 8,8 juta ton yang lalu disusul oleh Filipina diperingkat ketiga yaitu sebesar 1,9 juta ton. Peta negara-negara pembuang sampah plastik di lautan. Courtesy Jenna R. Jambeck et al klik pada gambar untuk memperbesar Menarik saat mencermati, bahwa negara industri terbesar dunia seperti Amerika Serikat dalam peringkat ini hanya menempati peringkat ke-20. India, negara berpopulasi kedua terbesar di dunia juga berada di luar peringkat sepuluh besar. Padahal kedua negara ini pun sama-sama memiliki wilayah yang langsung berbatasan dengan laut. Amerika Serikat memiliki banyak kota besar di pesisir Pasifik maupun Atlantiknya. Berbeda dengan Tiongkok, Indonesia dan Filipina, ternyata negara-negara ini mampu mengelola sampahnya secara efektif. Selayaknya negara maju, Amerika Serikat memiliki kemampuan untuk mencegah sampah plastik untuk memasuki laut, yaitu lewat infrastruktur pengelolaan sampah yang mampu menurunkan kuantitas kumulatif sampah plastik di darat. Hasil penelitian Jambeck menyebutkan terdapat korelasi kemampuan sebuah negara untuk menjerat dan mengumpulkan’ sampah plastik di darat dengan jumlah sampah di lautan. Semakin efektif pengelolaan maka, jumlah sampah di lautan akan semakin menurun. Karena umumnya sampah di lautan dibawa dan mengikuti aliran air sungai, peneliti lain kolega Jambeck, Kara L. Law menyebutkan terdapat hubungan erat antara jumlah sampah yang ada di lautan dengan tingkat polutan sungai di tiap negara. Negara yang mampu mengelola sungai secara efektif, maka perairan lautnya akan semakin bersih dari sampah plastik. Sampah dari sungai yang dijaring agar tidak masuk dalam perairan laut di Bali. Foto Anton Muhajir Sampah Sungai dan Problem Negara Berkembang Negara kepulauan seperti Indonesia dan Filipina keduanya merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki masalah klasik negara berkembang. Keterbatasan sumberdaya, kapital dan teknologi yang disandingkan dengan geografis pulau, menyebabkan sampah dan sampah plastik mudah lepas dari daratan dan terakumulasi di lautan lepas. Ambilah contoh, perairan Teluk Jakarta, yang merupakan muara dari sekitar 13 sungai dan anak sungai yang melalui kota-kota berpopulasi padat lebih dari 20 juta orang. Perairan Teluk Jakarta saat ini tercemar sampah plastik berskala akut. Tidak heran pasukan oranye sampai perlu diterjunkan tiap hari hanya untuk “menggiring sampah plastik.” Sampah yang hanyut di Teluk Jakarta, merupakan sampah-sampah yang dihanyutkan dari daratan dan sungai. Sampah-sampah ini juga termasuk sisa sampah yang lepas tak tertampung dari sekitar total ton sampah per hari yang dihasilkan dari warga Jakarta dan sekitarnya. Hal yang sama terjadi untuk provinsi kepulauan lain, seperti Bali. Provinsi ini setiap harinya menghasilkan sekitar 10 ribu ton sampah perhari yang dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir TPA. Tanpa adanya perubahan teknologi dan model penanganan sampah terpadu, sebagian dari sampah akan terus masuk ke perairan, dan menjadi sumber pencemaran baru. Masalah sampah plastik di lautan tidak lepas dari bagaimana kualitas sungai sebagai pembawa limbah. Sungai yang tercemar dan jarak yang relatif pendek antara hulu sungai dan muara sungai, secara khusus di pulau Jawa, Bali dan pulau-pulau kecil lainnya, menyebabkan sampah dan limbah sungai pun menjadi semakin cepat terbawa ke laut. Perairan Teluk Jakarta yang dipenuhi sampah seperti terlihat di Cilincing, Jakarta Utara. Didokumentasikan pada tahun 2013. Foto Beawiharta/Reuters Indonesia mempunyai catatan buruk mengenai polutan sungai. Sungai Citarum pada tahun 2013 dinobatkan oleh Blacksmith Institute, sebuah lembaga non-profit bidang lingkungan di New York, sebagai sungai paling tercemar di dunia. Sungai Citarum, panjangnya sekitar 300 kilometer yang diawali dari lereng Gunung Wayang di tenggara Kota Bandung melewati kawasan pertanian, perikanan, pemukiman, kawasan industri, dan berakhir di Muara Bendera dan terus menuju Laut Utara Jawa. Sungai ini tercemar berat limbah industri tekstil yang tidak memiliki fasilitas IPAL instalasi pengolahan air limbah Sungai lain yang tercemar berat adalah Ciliwung. Sungai ini memiliki panjang 120 kilometer yang berhulu di Gunung Gede, Kabupaten Cianjur melewati kawasan pemukiman, kawasan pabrik, melewati 3 kota besar yaitu Bogor, Depok, dan Jakarta, yang akhirnya bermuara di Teluk Jakarta. Berdasarkan perhitungan SNI terdapat sekitar ton sampah per hari yang dihasilkan kedua sungai tersebut yang “disetor” ke laut atau berarti terdapat setidaknya ton sampah setiap tahunnya yang masuk ke laut. Untuk melihat eskalasi yang terjadi, tidak saja Citarum termasuk 28 km aliran sungai Cikapandung yang melintasi kota Bandung, Ciliwung dan Cisadane saja yang bermasalah. Menyitir dari data KLH 2013, maka terdapat 75 persen dari 57 sungai besar yang ada di Indonesia yang dikategorikan tercemar berat, 60 persen penyebabnya berasal dari limbah domestik rumah tangga. Tingkat cemaran sungai dari limbah domestik tidak lepas dari sikap mental masyarakat yang menganggap sungai merupakan “halaman belakang” dan dapat digunakan sebagai tempat pembuangan sampah umum. Masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran sungai dan kali, tampaknya telah kehilangan etika untuk menjaga kebersihan lingkungan sungai. Sampah plastik yang ditemukan di pantai Paloh, Kalimantan Barat. Indonesia merupakan satu dari negara pencemar sampah plastik terbesar di lautan. Foto WWF-Indonesia Di negara berkembang lain seperti Tiongkok, hal yang sama pun terjadi. Sungai-sungai di Tiongkok memiliki tingkat polutan yang amat tinggi, baik dari sampah domestik maupun limbah industri. Tiongkok mempunyai dua sungai yang berpredikat masuk 10 sungai terkotor di dunia yaitu sungai Yellow dan sungai Songhua. Sungai lain di Tiongkok yang tercemar berat adalah sungai Yenisei. Sungai ini dikenal berbahaya lantaran racun, radiasi, dan hasil cemaran rumah tangga. Sungai Yenisei telah terkontaminasi pada tingkat parah dan serius. Saking kotornya sungai-sungai di Tiongkok akibat cemaran industri dan rumah tangga, sempat memunculkan cerita satire tentang orang yang tak jadi bunuh diri di sungai, bahkan berusaha kabur keluar karena terlanjur jijik dengan sampah yang ada di sungai. Seperti Indonesia, Filipina pun mempunyai beberapa sungai yang sangat kotor dan mempunyai tingkat polutan yang sangat tinggi seperti sungai Marilao dan Pasig yang membelah metro Manila. Sungai-sungai ini dipenuhi sampah domestik dan limbah industri yang membuat air sungai ini berada pada tahap berbahaya. Pemerintah pun turun tangan. Salah satunya mengontrol limbah rumah tangga yang masuk ke aliran sungai ini. Upaya yang dilakukan mirip yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki T. Purnama, yaitu memindahkan sebagian pemukiman kumuh yang berlokasi di badan sungai ke tempat yang lebih layak huni. Sungai Karang Mumus yang melintasi kota Samarinda pun tidak luput dari sampah plastik. Foto Misman Selain limbah domestik, limbah Industri juga berperan besar memberi polutan bagi lautan. Industri yang tidak mengoperasikan IPAL secara optimal akan membuang limbahnya langsung ke sungai karena kapasitas IPAL tidak sesuai dengan kapasitas produksi. Jika terjadi demikian maka industri tersebut akan menyembunyikan saluran pembuangan limbah industrinya agar sulit dijangkau petugas hukum. Undang-Undang di Indonesia yang berhubungan dengan lingkungan, pengelolaan wilayah badan sungai dan hunian sebenarnya sudah banyak. Tinggal bagaimana pemerintah memiliki ketegasan untuk melaksanakan dan menegakkan aturan yang ada. Termasuk di dalamnya kewajiban pemerintah untuk melakukan monitoring pembuangan limbah industri berdasarkan PP tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran. Dengan mengatur limbah domestik daratan dan aliran sungai dengan baik, disertai dengan teknologi pemusnahan sampah yang efektif, semoga Indonesia dapat keluar dari daftar salah satu negara pencemar laut terbesar di dunia. * L. P. Hutahaean, penulis adalah praktisi teknik planologi dan pengamat wilayah perkotaan Artikel yang diterbitkan oleh
Banjir rob ini menerjang pesisir utara Jakarta dan menggenangi pemukiman warga disana. Badan Geologi bahkan sudah melakukan kajian terkait penurunan permukaan tanah. Tercatat hingga 2013 permukaan tanah di Jakarta sudah turun 40 meter dari asalnya, khususnya di Jakarta bagian utara. Dampak yang sudah jelas terlihat adalah wilayah di pesisir Jakarta Utara. Air laut sudah masuk dan mengurangi batas wilayah di Jakarta Utara. Padahal Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika BMKG memperkirakan daerah pesisir Jakarta Utara akan mengalami air pasang maksimum pada 9 Januari hingga 11 Januari 2020. Masuknya air laut ke wilayah Jakarta sudah menimbulkan intrusi atau masuknya air laut ke pori-pori batuan yang mencemarkan air tanah. Menurut catatan Badan Geologi intrusi air laut sudah mencapai wilayah Monas bagian utara. Salah satu penyebab penurunan permukaan tanah dan intrusi air laut adalah pengambilan air tanah yang berlebihan diberbagai wilayah Jakarta. Mantan Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro pernah mengungkapkan Jakarta bisa tenggelam di tahun 2030. Rata-rata penurunan muka tanah DKI Jakarta sekitar 7,5 cm per tahun. Dia menyebut, bahkan ada wilayah yang penurunan muka tanahnya mencapai 18 cm per tahun. Selain itu mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menerangkan, rata-rata penurunan muka tanah DKI Jakarta sekitar 7,5 cm per tahun. Penurunan muka tanah sendiri sudah terjadi sejak 1975. Penurunan muka tanah ini sejalan masifnya pengambilan air tanah serta pembangunan yang masif. Guna memitigasi risiko tersebut, pemerintah mulai membangun tanggul pengamanan pantai. Tanggul yang masuk dalam proyek Terpadu Pesisir Ibukota Negara atau National Capital Integrated Coastal Deveploment NCICD di Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara Itu itu dibangun pada tahun 2014. Selain itu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menargetkan pembangunan tanggul laut raksasa lepas pantai Jakarta bisa dimulai pada 2021 setelah penyusunan masterplan rampung disusun. Pembangunan tanggul laut raksasa merupakan upaya jangka panjang dalam mengatasi penurunan muka tanah dan kenaikan air laut di pesisir Jakarta. Tanggul pengamanan pantai atau giant sea wall dibangun untuk menjaga sebagian wilayah Utara Jakarta yang terancam tenggelam lantaran permukaan tanah yang terus turun. Disamping ancaman air laut yang terus naik akibat penurunan tanah yang terus turun drastis di Jakarta, tanggul laut di Muara Baru jebol beberapa bulan lalu. Tanggul NCICD itu jebol sekitar 100 meter. Salah satu titik tanggul juga retak. Air laut pun merembes melalui retakan tanggul. Alhasil, rumah warga pun ikut terendam. Banyak bangunan di pesisir utara Jakarta ditinggal penghuni akibat banjir rob. Staf Ahli Menteri PUPR Firdaus Ali mengatakan bahwa pembangunan tanggul laut raksasa atau dikenal dengan sebutan giant sea wall merupakan upaya jangka panjang dalam mengatasi penurunan muka tanah dan kenaikan muka air laut di pesisir Jakarta. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika BMKG memperkirakan daerah pesisir Jakarta Utara akan mengalami air pasang maksimum pada 9 Januari hingga 11 Januari 2020. Air pasang maksimum ini diduga akan mengakibatkan banjir rob dan bisa memperparah banjir di Jakarta. ketinggian air bisa mencapai 1,4 meter tetapi saat ini ketinggian air hanya 40 sentimeter Cm karena baru memasuki fase pasang-surut perbani neap tides. BMKG memperkirakan air pasang maksimum akan terjadi pada 9 Januari pukul WIB, 10 Januari pukul WIB, dan 11 Januari 2020 pukul WIB. Perlu diketahui, pascabanjir akibat curah hujan yang tinggi kemarin, kini warga pesisir Jakarta Utara juga sudah harus bersiap untuk menghadapi banjir rob pada pekan ini. Air pasang maksimum nanti diduga akan mengakibatkan banjir rob dan bisa memperparah banjir di Jakarta khususnya pesisi utara Jakarta. Sudah siapkah? Seorang anak bermain di banjir Rob yang menggenangi kawasan hutan bakau Muara Angke. Perlu diketahui setelah pasca banjir akibat curah hujan yang tinggi kemarin, kini warga pesisir Jakarta Utara sudah mulai harus bersiap diri menghadapi banjir rob yang diperkirakan terjadi pada pekan ini. Beberapa warga tampak membakar sampah di samping tanggul Jakarta. Karena ancaman air laut di Jakarta bukanlah sebuah mitos. Sudah siapkah kita? Seorang anak juga tampak asyik bermain sepakbola di kawasan pesisir utara Jakarta yang kerap dilanda banjir rob saat kawasan tersebut masih kering.
mengapa peresapan air laut lebih banyak terjadi di jakarta utara